BERITA Senin, 12 Oktober 2026 | 03:12 WIB
3 min read

Cara Mengatasi Kecanduan Gadget melalui Lingkungan Belajar yang Terstruktur

347 views
45 likes
5 shares

Admin Algebra IIBS

Redaksi

Bagikan:
Cara Mengatasi Kecanduan Gadget melalui Lingkungan Belajar yang Terstruktur - Foto 1
Cara Mengatasi Kecanduan Gadget melalui Lingkungan Belajar yang Terstruktur
Mengatasi kecanduan gadget pada anak terdengar hal yang sederhana. Orang tua tinggal membatasi waktu memegang gadget, menyimpan ponsel anak, lalu mengajak anak melakukan kegiatan lain. Tetapi kenyataannya, tidak selalu semudah dan sesederhana itu.

Ketika gadget sudah menjadi bagian dari keseharian anak, membatasinya berarti mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk. Oleh sebab itu yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama anak menggunakan gadget, tetapi juga bagaimana perangkat tersebut memengaruhi belajar, tidur, aktivitas fisik, dan interaksi sosialnya.

Penggunaan gadget mulai menjadi perhatian di sekolah

Persoalan penggunaan gawai pada anak tidak hanya menjadi urusan keluarga. Pada Juli 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.

Kebijakan tersebut bukan berarti melarang murid menggunakan teknologi. Pembatasan dilakukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan kondusif, termasuk mengurangi distraksi yang dapat mengganggu konsentrasi serta interaksi sosial murid.

Artinya, membangun kebiasaan digital yang sehat tidak cukup hanya dengan mengatakan atau meminta kepada anak untuk mengurangi gadget. Perlu dukungan dari lingkungan tempat anak belajar sehingga ada yang membantu anak mengubah kebiasaannya.

Bukan sekadar mengurangi waktu penggunaan gadget

Kementerian Kesehatan menyebut penggunaan gadget berlebihan pada anak dapat berkaitan dengan berkurangnya aktivitas fisik, gangguan konsentrasi belajar, masalah interaksi sosial, hingga gangguan tidur. Kemenkes juga menyarankan orang tua menyediakan kegiatan lain yang menarik serta membuat aturan penggunaan gadget secara konsisten.

Di sinilah lingkungan belajar yang terstruktur menjadi penting. Anak memiliki waktu untuk belajar, berinteraksi, beristirahat, beraktivitas, dan menyelesaikan tanggung jawabnya. Waktu luang tetap ada, tetapi tidak seluruhnya bergantung pada layar.
Pendekatan seperti ini juga membuat pembatasan gadget terasa lebih masuk akal. Anak bukan sekadar kehilangan akses terhadap ponsel, tetapi memiliki kegiatan lain untuk dijalani.

Bagaimana dengan lingkungan pesantren?

Pesantren modern memiliki keseharian yang cukup berbeda dari sekolah nonboarding. Setelah pembelajaran di kelas selesai, kehidupan santri masih diisi dengan kegiatan keagamaan, interaksi bersama teman, belajar mandiri, serta berbagai aktivitas pengembangan diri.

Tentu, aturan penggunaan gadget setiap pesantren berbeda. Karena itu, orang tua tetap perlu menanyakan kebijakan gawai, jadwal kegiatan, dan bentuk pendampingan santri sebelum memilih sekolah.

Hal yang menarik bukan sekadar apakah anak memegang gadget atau tidak, tetapi apakah kesehariannya memiliki cukup banyak aktivitas bermakna di luar layar.

Lingkungan belajar di Algebra IIBS

Di Algebra International Islamic Boarding School, keseharian santri mencakup beberapa bidang pembelajaran dan pengembangan diri.

1. Al Qur’an & Islamic Studies meliputi Tahsin, Tahfiz, dan pembelajaran Islam.
2. Akademik mencakup pembelajaran dengan kurikulum nasional serta penguatan Bahasa Inggris.
3. Science & IT mencakup pembelajaran sains dan teknologi untuk mendukung kemampuan akademik dan literasi digital santri.
4. Pengembangan diri meliputi komunikasi, kepemimpinan, kemandirian, dan berbagai kegiatan santri.

Dengan lingkungan yang terarah seperti ini, anak memiliki ruang untuk belajar, berinteraksi, mengembangkan kemampuan, sekaligus menjalani aktivitas tanpa harus selalu bergantung pada gadget.

Bagi Ayah dan Bunda yang sedang mempertimbangkan lingkungan pendidikan dengan keseharian yang lebih terstruktur, Ayah/Bunda dapat mengenal lebih jauh kehidupan santri di Algebra IIBS untuk menjadi langkah anak berikutnya.