KITAB KUNING & NARASI WASATIYYAH MENARIK PERHATIAN KAPOLRI

(KH. Khariri Makmun, Pengasuh Pesantren ALGEBRA IIBS & Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat)

(KH. Khariri Makmun, Pengasuh Pesantren ALGEBRA IIBS & Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat)

Kitab kuning telah diajarkan di pesantren-pesantren Indonesia sejak abad ke-18. Pesantren disinyalir merupakan hasil Islamisasi sistem pendidikan lokal yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara. Kala itu, lembaga pendidikan lokal berupa padepokan dan dukuh yang banyak didirikan untuk mendidik para cantrik.

Melalui proses dakwah yang dipelopori oleh Wali Songo, padepokan-padepokan tersebut diakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Materi yang diajarkan pun diganti menjadi ilmu-ilmu yang bernapaskan Islam. Seiring dengan semakin meluasnya ajaran Islam di Nusantara, padepokan-padepokan tadi berganti nama menjadi pesantren.

Salah satu karakter Islam yang sejuk dan menekankan kedamaian ada pada materi kitab kuning. Narasi kitab kuning yang menambah cita rasa kecintaan terhadap negara, memperkuat nasionalisme, reformasi akhlak dan dakwah dengan santun merupakan kekuatan dan karakter Islam di Nusantara.

Maka, tidak salah jika Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (KAPOLRI) baru Komisaris Jenderal Listyo Prabowo mewajibkan anggotanya belajar kitab kuning. Sebagaimana kita tahu, bahwa salah satu program  yang juga menjadi sorotan adalah rencana Listyo mewajibkan anggota Polri belajar kitab kuning guna mencegah terorisme. Ide tersebut ia dapat dari ulama-ulama yang ditemuinya saat bertugas sebagai Kepolisian Daerah (KAPOLDA) Banten.

Listyo memastikan belajar dengan kitab kuning mampu mengurangi terorisme “Ulama-ulama yang kami datangi mencegah terorisme dengan belajar kitab kuning, tentunya baik di eksternal maupun internal, saya yakini apa yang disampaikan kawan-kawan ulama benar adanya. Maka, akan kami lanjutkan,” tuturnya.

Kitab kuning telah berhasil membentuk karakter Islam Indonesia yang berpaham moderat dan menjaga ajaran Islam ahli sunnah yang adaptif terhadap modernitas dan perkembangan zaman.

Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabiin dan sahabat. Kalangan pesantren memfungsikan kitab kuning sebagai ‘referensi’ nilai universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Karena itu, bagaimanapun perubahan dalam tata kehidupan, kitab kuning harus tetap terjaga. Memutuskan mata rantai kitab kuning, sama artinya membuang sebagian sejarah intelektual umat. Kita mungkin sering mendengar sebuah hadits yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. “Al-ulama warosatul anbiya : ulama adalah pewaris para Nabi.”

Secara singkat dan lebih jelasnya, apapun masalah yang kita temui, jawabnya adalah kitab kuning. Itulah ungkapan mudah untuk menggambarkan betapa luasnya khazanah dalam kitab kuning seperti yang dipahami di kalangan pesantren, sehingga semua masalah dapat terselesaikan olehnya.

Kita perlu mendukung program KAPOLRI yang mengapresiasi kitab kuning sebagai khazanah Islam klasik yang bisa menambah spirit anggota Polisi Republik Indonesia (POLRI) melawan terorisme dan menjauhkan agama dari budaya kekerasan. (cyw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalammualaikum Selamat Datang , Kami Dari Algebra International Islamic Boarding School Membuka Pendaftaran Calon Santri Tahun Ajaran 2022/2023

untuk Informasi Lebih Lanjut Bisa Dengan Melanjutkan Chat