Peran Pesantren Untuk Peradaban Umat

Oleh : Cici Yuli Wartuti

Pondok pesantren merupakan tempat para santri belajar agama Islam dan menerapkan ajaran Islam, sehingga membentuk perilaku yang Islami. Abdurrahman mas’ud menjelaskan keberadaan pesantren tidak lepas dari peran wali songo, yaitu penyebar agama Islam di tanah Jawa. Kita menyepakati, bahwa tonggak awal perkembangan pondok pesantren di mulai dari Pesantren Ampel yang telah menjadi cikal bakal lahirnya pesantren-pesantren di bumi pertiwi. Sedangkan sejarah mencatat, lembaga pendidikan pesantren tertua adalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo, yang didirikan pada tahun 1724. Pesantren berkembang dengan sangat pesat, terutama di pulau Jawa, hingga sekarang pesantren sudah berkembang ke seluruh pelosok Indonesia sebagai pusat dakwah rahmatan lil alamin. 

Seorang Indonesianis yang berasal dari negeri Kincir Angin, Martin Van Bruinessen menulis di dalam karyanya yang fenomenal dengan judul “kitab kuning”, munculnya pesantren adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad lalu. Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami, tradis-tradisi yang mengakar di pondok pesantren yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari berasal dari kitab-kitab klasik. Meskipun demikian, seiring perkembangan zaman yang semakin kompleks dengan tuntutannya, pondok pesantren juga semakin berkembang sesuai kebutuhan masyarakat di era globalisasi yang epik dengan teknologi.

Secara garis besar, pondok pesantren di Indonesia menyuguhkan tiga bagian pendalaman untuk memahami agama Islam, dibagi dalam bentuk salaf, khalaf, serta perpaduan antara salaf dan khalaf. Tiga bagian tersebut tentu berotrientasi akhirat dan mempunyai peran untuk peradaban bangsa.

 Dilansir dari kompasiana.com, pesantren salaf mempunyai tujuan untuk mempertahankan pengajaran kitab-kitab kuning sebagai inti pendidikan tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum, menggunakan metode bandongan sorogan dan hafalan dalam bentuk nadzom. Lain halnya dengan pesantren khalaf yang memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah yang dikembangkan secara klasik. Sedangkan, perpaduan pesantren salaf dan khalaf, selain mengajarkan kitab kuning, juga mengajarkan mata pelajaran umum, serta menggunakan metode bandongan/ sorogan, hafalan namun juga menggunakan metode pembelajaran yang modern seperti diskusi, ceramah dan presentasi. Dari uraian berbagai jenis pondok pesantren tersebut, tentu saja setiap jenisnya mempunyai keunggulan tersendiri.

Untuk menjawab tantangan zaman dan beragam permasalahan yang aktual, pondok pesantren hadir sebagai pelepas dahaga di tengah gurun pasir yang terik. Pun, selaras dengan cita-cita leluhur kita yang sangat agung “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Yang mana, tanggung jawab pendidikan bukan hanya global aspek dari pimpinan yang harus dikumandangkan dengan nyaring, akan tetapi, seluruh lapisan masyarakat Indonesia bertanggung jawab atas pendidikan yang ada di Indonesia. Maka, sudah seyogyanya perlu gerakan pendidikan dan rekonstruksi nasional yang tertuang dalam UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa” secara berkelanjutan dan sistematis demi tercapainya cita-cita yang luhur tersebut.

Pondok Pesantren ALGEBRA International Islamic Boarding School atau biasa disingkat dengan ALGEBRA IIBS, hadir di tengah-tengah masyarakat layaknya oase di saat tandusnya nilai norma dan moral kaum muda, jawaban yang tepat bagi kaum muda untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat. Sistem pendidikan yang didesain untuk mencetak ulama, pemimpin, saintis, ekonom dan lain sebagainya. Sesuai dengan harapan yang terselubung di dalam pondok pesantren ALGEBRA, agar para santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga ilmu umum yang sangat penting kita kuasai untuk menghadapi kemajuan zaman. Ridwan Kamil pada suatu kesempatan pernah menyampaikan “setiap upaya memperbaiki mental dan spiritual adalah investasi peradaban”.

Izinkan penulis mengakhiri tulisan ini dengan sebuah nasihat Imam Bukhari kepada muridnya yang ingin belajar hadits:

Menuntut ilmu tidak sempurna kecuali seseorang menguasai empat bidang: mahir baca-tulis, mengerti bahasa, menguasai ilmu sharaf, dan ilmu nahwu (gramatikal). Kemampuan ini harus dibarengi dengan karunia Allah: kesehatan, kemampuan, keuletan, dan hafalan. Apabila empat hal ini berjalan dengan baik, dia akan diberikan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Tapi seketika itu pula dia akan diuji dengan empat ujian: musuhnya dengki, celaaan sahabatnya, makian dari orang bodoh, dan keirian ulama. Jika seseorang berhasil melewati ujian ini, di dunia dia akan memperoleh empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya meningkat, merasakan nikmatnya ilmu, dan kenikmatan hidup. Kelak di akhirat, Allah SWT akan memuliakannya dengan empat kesempatan: dapat memberikan syafaat kepada siapa yang dia inginkan, berhak memberi minum kepada siapa pun dari telaga Nabi Muhammad SAW, dinaungi bayangan Arasy, dan diposisikan di surga paling tinggi, di samping surga para Nabi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalammualaikum Selamat Datang , Kami Dari Algebra International Islamic Boarding School Membuka Pendaftaran Calon Santri Tahun Ajaran 2022/2023

untuk Informasi Lebih Lanjut Bisa Dengan Melanjutkan Chat